Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 1

Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 1

Orang Baduy/Badui merupakankelompok masyarakat adat Suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 26.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy Dalam.Saya akan bercerita mengenai perjalanan saya menuju suku baduy. Selamat membaca !

Hari pertama kedatangan di ciboleger menuju ke desa kenakes atau lebih tepatnya desa baduy luar untuk bermalam sekaligus meminta ijin untuk melakukan riset mengenai suku baduy. Pertemuan dengan Jaro Saija selaku kepala desa kenakes baduy luar dilakukan dengan tujuan bersilaturahmi, berhubung seorang dari tim pernah datang ke desa untuk kegiatan bakti sosial pada tahun 2014. *Jaro adalah sebutan lain dari kepala desa di baduy

Dalam kegiatan ini dilakukan oleh tiga orang ditambah dengan satu orang yang sudah pernah mengunjungi desa baduy dalam. Kegiatan survei ini dilakukan untuk membuat sebuah dokumentasi mengenai acara penting kebudayaan adat dari tiga acara penting dalam kehidupan, yaitu kelahiranpernikahan dan kematian.

Pertemuan dengan Jaro Saija yang sebentar membuat kami memperoleh sedikit informasi mengenai baduy, karena kesibukan Jaro Saija sebagai kepala desa. Namun, kami cukup mendapatkan informasi mengenai adat istiadat suku baduy dari salah satu warga badui luar sambil membeli cinderamata yang dibuatnya.

     

Desa baduy dalam terbagi menjadi 3, yaitu desa cibeo, desa cikeusik, dan desa cikartawarna. Tujuan utama kami dalam riset petama ini untuk pergi ke Baduy Dalam tepatnya di Desa Cibeo. Perjalanan dari desa Kenakes Baduy Luar menuju Cibeo menempuh jarak kurang lebih 12km yang kami tempuh dalam waktu 4 jam. Banyak rute yang bisa dilalui menuju Baduy Dalam, ada yang melalui gajebo atau lumbung padi yang biasa urang baduy sebut leuit, Lumbung padi yang bisa menyimpan cadangan beras selama 1 abad. Adapula jalur cijahe dan jalur lainya yang berbeda medan dan juga berbeda pemandangan. Jalur keberangkatan yang kami lalui adalah jalur yang melewati gazebo. Jalur yang cukup sulit karena melewati banyak tanjakan dan turunan curam yang membuat salah satu tim mengalami kram kaki akibat kurangnya peregangan pada saat keberangkatan.

Perjalanan didampingi oleh ayah Darma warga suku asli Baduy di desa Cibeo. Kami berangkat dari rumah Jaro Saija pukul 8 pagi dan sampai kediaman ayah Darma pada pukul 11.30 siang. Perjalanan kami menuju suku Baduy Dalam seperti perjalanan mundur menuju masa lampau, Sebelum bercerita mengenai bagaimana kami tinggal di desa Cibeo Baduy Dalam, kami akan memberi alasan kenapa perjalanan ini kami sebut “perjalanan mundur menuju masa lampau”.

  

Dimulai dari pusat kota yang ramai riuh serba cepat dan terburu-buru, teknologi yang selalu berkembang pesat, kami berjalan meninggalkan segala keriuhan menuju ke Rangkasbitung, Banten. Ketika melewati Rangkasbitung yang sudah mulai jauh dari keramaian hingga akhirnya sampai pada kampung ciboleger desa Kenakes kecamatan Leuwidamar, Banten. Kampung ini seperti kampung wisata pada umumnya banyak warung yang menjajakan makanan dan kerajinan khas baduy, ada penduduk lokal yang sibuk dengan urusannya, pemandu wisata bersama tamunya, dan kami tentunya sebagai wisatawan.

Setelah beristirahat sejenak kami bersiap untuk pergi masuk kedalam desa baduy luar untuk menginap di kediaman Jaro Saija. Terdapat perbatasan yang memisahkan kampung Ciboleger dan desa Kenakes Baduy Luar, yaitu kantor desa Kenakes. Setelah melewati perbatasan kantor desa semua warga Baduy Luar mempunyai rumah berbahan dasar kayu dan bambu rumah adat yang biasa disebut Sulah Nyanda yang pengerjaannya dilakukan secara gotong royong.

Di pemukimam Baduy Luar para warganya sudah mengenal dan menggunakan teknologi seperti telepon genggam dan terbuka dengan budaya luar, kecuali listrik dan penggunaan sabun masih dilarang di pemukimannya. Ketika malam datang warganya hanya menggunakan lampu penerangan kecil bertenaga matahari. Penggunaan semen pun tak terlihat di desa Kenakes, jalanan setapak yang menghubungkan antar rumah hanya berbahan dasar dari batu kali. Perbedaan yang paling mendasar antara Baduy Dalam dan Baduy Luar adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat. Di pemukiman Baduy Luar saya merasa distraksi dari alat elektronik mulai berkurang dan mulai berbaur Bersama warga desa dengan menonton pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia. Kami menonton di satu-satunya tempat yang mempunyai televisi dan listrik sebagai hiburan setempat yang berada di kantor desa Kanekes.

Melanjutkan perjalanan menuju desa Cibeo Baduy Dalam, setelah berjalan melewati beberapa jembatan bambu serta tanjakan dan turunan bukit yang cukup terjal, akhirnya kami sampai jembatan yang menjadi penanda perbatasan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Sebelum melewati jembatan kami semua menonaktifkan semua alat elektronik untuk menghormati budaya adat di Baduy Dalam. Setelah memasuki desa Cibeo, suasana asri perkampungan dengan sungai yang jernih tanpa terlihat sampah plastik serta jauh dari suasana bising.

Memasuki pemukiman baduy dalam seperti berada di desa kerajaan pada masa lalu. Bersahaja dan jauh dari kesan modern dengan rumah sederhana terbuat dari kayu tanpa menggunakan paku untuk merekatkan kayu, tetapi menggunakan kulit dari kayu rotan yang diikat antara siku kayu, uniknya rumah inilah yang kokoh dari gempa. Pintu rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu berbeda dengan masyarakat Baduy Luar yang menggunakan pintu kayu dan paku untuk rumahnya. Didalamnya terdapat 2 tungku pembakaran, yang pertama adalah dapur untuk keperluan memasak makanan dan kedua untuk memasak air dan penghangat ruangan. Tidak ada kamar dan kami tidur diruang tengah hanya beralaskan tiker dan suasana tenang dengan sedikit pencahayaan dari obor kecil. Itu mengapa kami menggambarkan perjalanan ini seperti perjalanan menuju masa lampau. Karena suasana desa baduy dalam yang jauh dari kesan modern dan serba alami.

    

lanjut ke part selanjutnya…

Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *