Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 2

Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 2

Setelah bermalam di desa Baduy Luar dan melalui perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya kami berempat bermalam di kediaman Ayah Darma warga asli Baduy Dalam desa Cibeo yang berusia 44 tahun, beliau memiliki 4 buah hati yang bernama Agus sebagai anak pertama, Henri, Reni, dan Sharpin anak terakhirnya. Mereka hidup sangat berbahagia dalam kesederhanaannya dan kami banyak belajar mengenai rasa bersyukur, ikhlas dan menjaga keselarasan alam dan budaya serta kehangatan tali persaudaran. Penginapan teramah dan termurah yang bisa kami dapatkan di baduy dalam, hanya dengan membawa gambir untuk nyirih yang mereka gemari, kami pun tidak lupa membawa ikan asin beserta kopi dan makanan ringan lainnya untuk oleh-oleh kepada mereka.

Selama perjalanan kami menuju Baduy Dalam, banyak informasi menarik mengenai suku baduy yang kami dapatkan melalui urang baduy asli. Seperti tujuan kami di awal untuk mendokumentasikan kegiatan acara adat mengenai kelahiran, pernikahan, dan kematian yang akan kami buat menjadi sebuah karya dokumenter serta sebuah buku. Kami akan menceritakannya sesuai dengan yang kami dapat dari berbincang langsung dengan urang baduynya pada riset pertama kami.

KELAHIRAN

Kelahiran anak di Kawasan baduy terbilang sangat sederhana untuk urang tangtu atau baduy dalam, meraka menggunakan jasa dukun beranak atau orang baduy biasa sebut Dukun Paraji yang ada di masing-masing desanya. Kalau baduy luar bisa menggunakan bidan atau pergi ke puskesmas untuk kelahiran, tetapi ada juga beberapa yang menggunakan Dukun Beranak.

Setiap kelahiran anak di suku baduy mempunyai acara adat sebagai ungkapan rasa syukur. Mulai dari proses kehamilan yang harus menggunakan kendit atau yang biasa kita kenal sebagai kemben (ikat pinggang kain). Kendit di baduy biasa terbuat dari kulit kayu yang berfungsi sebagai penyangga atau penahan perut dan juga sebagai syariat yang dipercaya sebagai penjaga orang hamil oleh urang Baduy. Penggunaan kendit ini mulai digunakan pada usia kehamilan bulan pertama atau bulan ketiga. Pada usia 7 bulanan biasanya diadakan selametan seperti biasa yang hanya mengundang keluarga dan orang terdekat.

Pada saat kelahiran anak di suku baduy terdapat acara selamatan pada usia kelahiran 7 hari yang diselenggarakan selama 3 hari 3 malam untuk mendapatkan nama yang baik. Proses acara selamatan kelahiran di Baduy Dalam pasti sepengetahuan Puun (kepala adat) untuk mencari nama yang cocok untuk anak yang baru lahir. Pemberian nama pada anak diusulkan oleh kedua orangtua dari anak tersebut yang lalu dipilih atau yang telah dicocokan oleh Puun. Setelah upacara emilihan nama sudah selesai oleh Puun, siang harinya keluarga yang sudah memiliki nama untuk anaknya diharuskan menginap di saung lading mereka selama 2 hari 2 malam. Sedangkan pemilihan nama di Baduy Luar menggunakan jasa dari dukun Paraji atau paranormal setempat, bukan Puun. Setelah proses pemberian nama sudah ditetapkan oleh Puun atau Paranormal biasanya bayi tersebut dipakaikan gelang yang terbuat dari kapas yang disebut Kapuru yang dipercaya sebagai keselamatan.

Acara selametan kelahiran pun diselenggarakan dengan hanya mengundang keluarga dan tetangga di desanya. Dengan sajian makanan yang sederhana ada kue-kue untuk disuguhkan pada tamu yang datang. Adapula sajian yang orang Baduy sebut Congcot atau yang biasa kita kenal sebagai nasi tumpeng, Cuma bedanya nasi mereka gunakan adalah nasi putih yang hanya dibungkus seperti biasa beserta lauk seperti ayam, tempe, dan lain-lain. Adapula sajian khusus untuk Puun, biasanya yang disediakan untuk Puun adalah bahan-bahan untuk nyirih.

PERNIKAHAN

Pernikahan adat suku Baduy Dalam dan Baduy Luar memiliki perbedaan pada proses acara pernikahan adatnya. Di suku adat Baduy memiliki penanggalannya sendiri yang berbeda dengan kalender masehi yang kita gunakan. Mereka mengenal bulan baik dan bulan buruk untuk melakukan kegiatan acara adat maupun kegiatan untuk berladang. Ada 12 bulan yang mereka gunakan sama seperti kalender masehi, hanya berbeda nama. Tanggalan yang mereka gunakan seperti berikut:

Penanggalan masehi Penanggalan Baduy
Januari Safar
Februari Kalima
Maret Kaenam
April Kapitu
Mei Kadalapan
Juni Kasalapan
Juli Kasapuluh
Agustus Hapit Lemah
September Hapit Kayu
Oktober Kasa
November Karo
Desember Katiga

Dalam penanggalan tersebut masyarakat baduy mempercayai bulan baik dan bulan larangan untuk mengadakan acara apapun terutama mengadakan acara pernikahan. Terdapat tiga bulan larangan yang dihindari masyarakat baduy untuk mengadakan acara adat, bulan-bulan itu disebut bulan kawalu. Terdapat 3 bulan kawalu dalam penaggalan baduy yang dilarang melakukan acara adat, bulan tersebut adalah Kasa, Karo, dan Katiga. Sedangkan bulan yang paling baik untuk melakukan acara adat pernikahan adalah bulan Hapit Kayu.

Terdapat tiga proses dalam pernikahan adat baduy yang dilakukan oleh suku adat Baduy. Proses yang pertama adalah lamaran pertama kali sebagai perkenalan yang dilakukan melibatkan Puun sebagai penghulu di Baduy Dalam dengan mambawa gambir, Kapur, sirih untuk Puun dan juga keluarga mempelai wanita beserta makanan. Lamaran pertama ini dilakukan pula oleh Baduy Luar, tetapi yang membedakannya adalah mereka hanya melibatkan jaro desa Baduy Luar dan penghulu.

Acara pernikahan adat di Baduy Dalam sangat sederhana dan melibatkan segelintir orang dan tertutup untuk tamu luar atau wisatawan, terkecuali mereka yang sudah mengenal dan diijinkan atau bahkan diundang ke acara pernikahan mereka. Di Baduy Dalam populasi wanita terbilang cukup sedikit dibanding dengan pria. Penjodohan pun sudah dilakukan dari usaia 5 tahun oleh orang tua mereka, jadi para anak tidak bisa memilih pasangan mana yang akan mereka nikahi. Rata-rata pada usia 15-16 tahun mereka sudah dianggap dewasa untuk melaksanakan pernikahan.

Kami mempunyai kenalan teman orang baduy dalam bernama Aldi yang akan menceritakan proses pernikahannya. Aldi berusia 28 tahun dan sudah mempunyai 2 anak laki-laki yang berusia tiga tahun bernama Damian dan anak keduanya yang berusia 2 bulan yang bernama David. Aldi sudah dijodohkan sejak ia masih kecil dan menikah pada usia 20 tahun. Lamaran pertama kali yang dilakukan Aldi tepat dibulan kalima, lalu lamaran kedua dilakukan dibulan kaenam dan pernikahan dilaksanakan pada bulan kapitu. Pernikahan yang dilaksanakan oleh Aldi dan pasangannya yang bernama Daniah terbilang cukup sederhana. Pakaian yang mereka gunakan sama seperti pakaian mereka sehari-hari tetapi digunakan yang paling terbaru atau terbaik.

Prosesi pengesahan pernikahan yang dilakukan dengan cara saling mengunyah sirih yang dilanjutkan dengan saling menyuap nasi yang sudah diberi mantra oleh Puun sebagai penghulunya. Setelah suap menyuap nasi, maka pernikahan tersebut sudah nyatakan sah oleh semua saksi yang menyaksikan. Dilanjutkan dengan makan Bersama dengan tamu undangan.

Sedangkan prosesi pernikahan di baduy luar lebih terbuka untuk umum dan bisa disaksikan oleh tamu atau wisatawan dan terbilang lebih mewah dibandingkan pernikahan yang diadakan oleh Baduy Dalam. Pakaian yang digunakan pada acara pernikahan adat Baduy Luar berbeda dengan Baduy Dalam, Baduy Luar menggunakan sengker atau mahkota yang digunakan oleh kedua pasangan tersebut. Penggunaan kainnya pun bermotif batik masing-masing pasangan berbeda motif batik, mempelai lelaki biasanya menggunakan pola batik bernama poleng hideung sedangkan mempelai wanitanya menggunakan batik bermotif poleng kacang herang.

Hukum adat di suku baduy mengenal pernikahan hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup dan tidak diperbolehkan bercerai dan berselingkuh. Masyarakat baduy sangat berpegang teguh dengan adat istiadatnya yang membuat mereka tidak terpengaruhi oleh budaya luar. Baduy mempunyai motto hidup “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, kurang teu meunang ditambah, leuwih teu meunang dikurang”.

KEMATIAN

Upacara kematian di suku baduy sama seperti yang dilakukan umat islam yaitu dengan dikubur. Sebelum penguburan masyarakat baduy melakukan pemandian, penggunaan kain putih seperti kelambu yang berpori jarang untuk jenazah berbeda dengan kain kafan. Terdapat 3 juru kubur yang mengurusu penguburannya, sedangkan penggaliannya ramai-ramai secara gotong royong. Selain itu posisi jenazah yang diterapkan oleh suku baduy badan menghadap ke selatan dan kepala menuju barat.

Tamu yang datang untuk mendoakan biasanya 3 kali kedatangan dengan memberi santunan berupa uang. Setiap kedatangan biasanya uang santunannya berlipat lebih dari pada sebelumnya, contohnya kedatangan pertama memberi santunan berjumlah sebesar 50.000 lalu kedatangan selanjutnya berlipat melebihi dari 50.000 bisa 60.000 atau bahkan lebih, begitu pula kedatangan yang ketiga. Setelah mendoakan yang ketiga kalinya prosesi acara kematian pun selesai.

Terdapat tanda yang biasa kita sebut batu nisan, tetapi yang diterapkan oleh suku baduy tandanya itu menggunakan pohon hajuang di kepala dan di kaki. Terdapat perbekalan juga untuk jenazah berupa ayam bekakak dan nasi sedikit serta ikan asin dan sirip pinang ada pula uang logam terdapat pula 2 tabung bambu berisi air dan air nira, kalua bayi biasanya air asi ibunya ditaruh di tabung bambu tersebut. Yang menangis hanya dari keluarganya saja biasanya lelaki tidak nangis berlebih karena dianggap lemah hanya bersedih karena kehilangan.

Didalam jurnal yang saya buat memungkinkan adanya kesalahan data atau informasi dan masih bisa berubah suatu saat. data-data dan informasi ini saya kumpulkan dan saya rangkum menjadi tulisan berupa jurnal dari perjalanan kami selama 5 hari di suku Baduy. jurnal ini akan terus berlanjut menyusuri suku-suku yang ada di Indonesia.

sekian.. dan Terima kasih.

Jurnal Oleh Dhika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *