GELIAT ZINE CETAK DI ERA DISRUPTIF

GELIAT ZINE CETAK DI ERA DISRUPTIF

Philip Meyer mengatakan pada tahun 2005 bahwa media cetak akan mati pada tahun 2042, Rupert Murdoch dan Noam Chomsky mengamini pendapat Philip Meyer, namun tetap berusaha optimis. Menurut Murdoch, umur media cetak bisa diperpanjang apabila media cetak menghentikan arogansinya dan memberikan perhatian pada kebutuhan masyarakat khususnya anak muda.Philip Meyer adalah profesor emeritus dan mantan pemegang Kursi Ksatria dalam Jurnalisme di University of North Carolina di Chapel Hill. Dia meneliti di bidang kualitas jurnalisme, jurnalisme presisi, jurnalisme sipil, polling, industri surat kabar, dan teknologi komunikasi.

Media massa diawali dengan ditemukannya media cetak dan terus mengalami perkembangan selama abad 20 hingga kini. Media massa mencapai puncak kejayaannya di abad 20 hingga dikenal juga sebagai abad komunikasi massa. Memasuki abad 21, media massa mulai menggunakan internet untuk menyebarluaskan berita dan informasi kepada khalayak yang jauh lebih luas.Sedangkan di Indonesia sendiri, dimulai sejak masa penjajahan Belanda yang terus berkembang dengan cukup signifikan ketika bergulirnya era reformasi pada tahun 1990an. Perkembangan media massa merambah semakin pesat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Di Indonesia juga terdiri dari berbagai macam media komunikasi seperti televisi, radio, film, surat kabar, majalah dan internet.

Media cetak erat kaitannya dengan surat kabar atau majalah. Majalah hadir untuk melengkapi kebutuhan informasi yang tidak dapat dipenuhi oleh surat kabar. Majalah diterbitkan secara berkala, baik bulanan maupun mingguan. Konten pada majalah biasanya berisi humor, karya fiksi, essay politik, sastra, musik, atau bahkan topik menarik  lainnya yang sifatnya lebih ringan daripada konten didalam surat kabar. Majalah di Indonesia sudah mulai terbit sejak zaman penjajahan bersamaan dengan surat kabar dengan bantuan teknologi cetak pada saat itu, namun majalah pada saat itu tidak bertahan lama. Pada tahun 1014 terbit majalah “De’Craine”, disusul oleh majalah “Perintis” yang beredar dikalangan supir. Pada masa kemerdekaan di tahun 1945 Majalah “Panja Raya” terbit di Jakarta dibawah pimpinan Markoem Djojohadisoeparto.

Di dalam lingkup subkultur, mereka mempunyai media yang mereka buat sendiri untuk alat komunikasi dalam kelompoknya sebagai alternatif dari media arus utama. Media publikasi alternatif itu disebut “Zine”. Zine berasal dari kata fanzine yang merupakan singkatan dari fan magazine (Fanzine). Zine tidak hanya berbicara masalah-masalah politik, budaya, ataupun musik, tema yang dituangkan ke dalam zine pun awalnya berbicara soal tema-tema fiksi ilmiah. Zine dijadikan sumber informasi bagi orang-orang atau bahkan kelompok masyarakat yang ingin mencari bacaan alternatif di luar media-media mainstream.

Dalam perkembangan zine, punk menyumbang banyak hal kepada dunia fanzine, seperti estetika baru, penuh dengan seni potong dan tempel yang tidak mengindahkan hak cipta dan orisinalitas serta mendobrak prinsip-prinsip desain grafis. Kemajuan teknologi menghasilkan mesin fotokopi. Dengan kemajuan teknologi tersebut muncul penerbitan independen yang pada akhirnya memproduksi media mereka sendiri. Tidak semua zine itu fanzine, tapi semua fanzine sudah pasti zine. Zine berisikan berbagai topik sekaligus dalam satu zine sedangkan Fanzine berisikan hanya satu topik saja dalam satu zine.

Zine sendiri mempunyai filosofi yang membedakannya dengan media cetak lainnya, diantara lain: semangat Do It Yourself yang membebaskan para pembuatnya menciptakan dengan metode apapun. Zine juga disebut sebagai Anti-authoritarian yang berarti bahwa di dalam zine sendiri tidak ada kebenaran yang absolut, zine adalah media alternatif yang bisa dilakukan dan diproduksi sendiri. Tidak ada satupun media di luar sana yang bisa berbicara atas banyak orang karenanya setiap orang boleh membuat medianya sendiri. Biasanya zine berupa hasil fotokopi yang diperbanyak untuk dibagikan atau pun dijual. Bagi beberapa seniman, zine merupakan sebuah arsip dari karya-karyanya. Selain menjadi arsip, kehadiran zine ini bisa dijadikan sebuah apresiasi untuk mengkoleksi karya seniman. Di Indonesia sendiri pergerakan zine masih kalah massive dibanding dengan buku-buku yang dijual di toko buku besar. Pergerakannya bisa dikategorikan underground. Namun, masih banyak anak muda yang mencari zine karena isi dari zine tersebut, berbeda dengan media arus utama bahkan beberapa zine isinya sangat out of the box. Ditahun 2012 pertama kali diadakan festival zine di Bandung dengan banyaknya pengunjung yang berantusias dengan zine. Ini membuktikan bahwa zine masih diminati oleh khalayak, walau dalam lingkup kecil.

Pada perkembangan teknologi di era digital saat ini, beberapa media seperti stasiun radio maupun televisi mulai memanfaatkan atau beralih menggunakan internet dalam metode siarannya. Begitu pula stasiun televisi di Indonesia yang menyiarkan secara langsung dengan menggunakan internet. Kehadiaran teknologi internet pun sudah pasti akan memberi dampak tersendiri bagi penerbitan pers atau  media cetak. Perkembangan teknologi kedalam media cetak menyebabkan alih bentuk dari cetak menjadi ke digital. Beberapa usaha penerbitan pers tidak mampu menghadapi era disruptif saat ini yang menyebabkannya gulung tikar. Hal itu juga disebabkan para pengiklan lebih suka mempromosikan produknya melalui media digital, yang sudah pasti mengurangi pemasukan ke penerbit pers media cetak konvensional. Namun, tidak semua penerbit tutup usia, beberapa beradaptasi dan beralih ke media digital.

Era disruptif tidak hanya menimbulkan masalah mengenai tergantikannya media konvensional ke media digital, tetapi terdapat masalah lain sehingga menyebabkan bias pada fungsi yang sebenarnya sebagai media pers yang menyalurkan suara masyarakat. Media yang kian hari terlalu mementingkan kepentingan politik dari sang pemilik. Istilah tersebut kita kenal sebagai konglomerasi media yang pada akhirnya menimbulkan mosi tidak percaya pada masyarakat terhadap media arus utama. Dalam zine justru mendobrak batasan tersebut sebagai bentuk perlawanan.

Zine saat ini semakin berkembang pula dengan bentuk-bentuk baru tidak terpaku seperti diawal kelahirannya. Banyak penerbit independen yang khusus memproduksi dan menerbitkan zine dengan berbagai macam konten dengan sirkulasi yang lebih luas dan dikelola secara profesional. Tidak sedikit pula zine kini lebih mirip majalah mini dengan sentuhan personal. Perkembangan pada skena zine sendiri masih tetap mempertahankan ideologi dan semangat mereka sebagai media alternatif seperti diawal kelahirannya.

Jika media cetak konvensional mengalami disruptif, seperti surat kabar menjadi electronic paper, majalah berubah bentuk menjadi e-magz (electronic magazine), dan lain-lain yang sudah mulai tergantikan oleh format digital. Pada skena zine pun terkena dampak dari perkembangan teknologi di era disruptif saat ini. Beriringan dengan perkembangan tersebut, dan dengan hadirnya internet maka muncul webzine dan e-zine sebagai antitesis dari zine cetak. Zine-zine ini tidaklah lagi membutuhkan kertas dan tinta. Hal yang membedakan Webzine dan e-zine adalah webzine berbasis pada website yang tampilannya bisa diakses melalui internet, sedangkan e-zine bisa di download serta di copy sebagai file data yang bisa dibaca menggunakan perangkat seperti smartphone atau personal computer dala format PDF biasanya.

Webzine hadir sebagai jawaban atas disruptif yang terjadi pada media zine cetak. Zine digital dianggap menghilangkan esensi D.I.Y yang menjadi ideologi zine, karena melewati proses percetakan. Namun kehadiran webzine dan e-zine bergeser lebih kedalam pergerakan secara kolektif baik dalam pembuatan konten yang dikerjakan bersama-sama, selain itu pergerakan yang dilakukan oleh zine digital adalah sebuah upaya menyelamatkan arsip cetak kedalam format digital. Zine digital saat ini masih berusaha untuk menunjukan eksistensinya di Indonesia. Munculnya webzine dan e-zine di indonesia sendiri menimbulkan kontroversi bagi para penggemar dan zinester (pembuat zine) yang menyukai zine dalam format cetak karena zine digital tidak melalui banyak proses yang pada akhirnya dianggap mematikan sisi personalnya antara zinester dan karyanya, begitu pula kepada pembaca. Zine cetak sebenarnya pernah sempat seakan menghilang, dengan hadirnya fitur blogging dari internet yang menggantikan zine sebagai media berekspresi secara personal.

Geliat yang terjadi pada zine cetak pada akhirnya tidak akan pernah surut dengan munculnya beberapa acara yang berkaitan dengan zine. Pada tahun 2008 Yogyakarta Zine Attack, menyelenggarakan pameran zine secara mandiri. Pergerakan tersebut mendapatkan respon positif. Sehingga berlanjut pada tahun 2011 menjadi sebuah acara dengan konsep yang sepenuhnya mengenai zine, yang terdiri dari workshop dan pameran koleksi zine. Pergerakan ini berlangsung sampai tahun 2014 dengan peserta yang beragam. Di kota Bandung juga mengadakan festival zine pertama mereka di tahun 2012 dan menjadi acara tahunan mereka. Pergerakan ini merambah ke kota besar lainnya seperti bali, surabaya, malang, dll. Dengan hadirnya acara tersebut akan semakin banyak khalayak atau anak muda yang tertarik untuk memproduksi medianya sendiri dan membuka kesempatan yang lebih luas kepada khalayak dalam mengapresiasi zine.

Lantas, akankah zine cetak di era disruptif ini bertahan dari terpaan arus mainstream dan media digital?

Saya selalu menyimpan katalog pameran yang biasa saya kunjungi, atau beberapa stiker pemberian teman, bahkan poster gigs yang dicabut dengan sengaja. Saya merasa sesuatu yang dicetak itu mempunyai nyawa, karena proses yang dilalui cukup panjang sampai menjadi sebuah arsip yang bisa dinikmati secara fisik. Sebuah karya dalam bentuk fisik bisa menjadi sangat berharga di era digital yang serba praktis dan instan. Saya percaya, sebuah rilisan fisik mempunyai nilai keintiman yang lebih mendalam ketimbang sebuah arsip yang dibatasi oleh layar. Dari rilisan fisik si pembaca bisa merasakan tekstur dari bahan kertas yang dipilih untuk dicetak, mengetahui gramasi dari ketebalan kertas, melihat pemilihan warna yang dicetak dan bahkan aroma kertas dari rilisan fisik yang masing-masing mempunyai karakter berbeda. Inilah alasan saya mengoleksi, menduplikasi zine, dan juga memproduksinya menjadi rilisan fisik yang bisa dibaca, dipegang, diperbanyak, disebarkan, dibolak-balik, digunting-gunting, atau yaa… terserah anda mau melakukan apapun dengan zine cetak anda. Zine akan tetap pada hakikatnya sebagai media berekspresi menyalurkan gagasan, perlawanan, atau bahkan arsip diri sebagai sejarah personal. Tidak akan ada yang membahas sejarah personal jika bukan anda sendiri melalui zine.

Media cetak khususnya zine akan tetap hidup selama masih ada kelompok-kelompok kecil (subkultur) yang masih bergantung pada medianya sendiri, dan juga selama masih adanya perlawanan terhadap media arus utama yang tidak bisa mendukung kebutuhan informasi, baik individu atau kelompok subkultur tersebut. Media cetak masih akan bertahan karena media digital dianggap mematikan sisi manusiawi (personalnya). Dengan melalui proses yang dilalui dalam mencapai sesuatu, akan membuat anda merasa lebih hidup sebagai manusia yang utuh.

Tangerang selatan. 02/08/2019

 

Sumber :

Megazine #1 zine : an anthology of zine event forewords 2018

Perkembangan Media Massa di Indonesia

https://www.kompasiana.com/mrahmad/552e47ac6ea83403398b4570/berakhirnya-media-cetak-tempo-diambang-kebangkrutan

https://www.antaranews.com/berita/796636/relasi-dinamis-media-arus-utama-dan-media-sosial

https://www.pontianakpost.co.id/dahlan-koran-tidak-akan-mati

 

 

Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 2

Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 2

Setelah bermalam di desa Baduy Luar dan melalui perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya kami berempat bermalam di kediaman Ayah Darma warga asli Baduy Dalam desa Cibeo yang berusia 44 tahun, beliau memiliki 4 buah hati yang bernama Agus sebagai anak pertama, Henri, Reni, dan Sharpin anak terakhirnya. Mereka hidup sangat berbahagia dalam kesederhanaannya dan kami banyak belajar mengenai rasa bersyukur, ikhlas dan menjaga keselarasan alam dan budaya serta kehangatan tali persaudaran. Penginapan teramah dan termurah yang bisa kami dapatkan di baduy dalam, hanya dengan membawa gambir untuk nyirih yang mereka gemari, kami pun tidak lupa membawa ikan asin beserta kopi dan makanan ringan lainnya untuk oleh-oleh kepada mereka.

Selama perjalanan kami menuju Baduy Dalam, banyak informasi menarik mengenai suku baduy yang kami dapatkan melalui urang baduy asli. Seperti tujuan kami di awal untuk mendokumentasikan kegiatan acara adat mengenai kelahiran, pernikahan, dan kematian yang akan kami buat menjadi sebuah karya dokumenter serta sebuah buku. Kami akan menceritakannya sesuai dengan yang kami dapat dari berbincang langsung dengan urang baduynya pada riset pertama kami.

KELAHIRAN

Kelahiran anak di Kawasan baduy terbilang sangat sederhana untuk urang tangtu atau baduy dalam, meraka menggunakan jasa dukun beranak atau orang baduy biasa sebut Dukun Paraji yang ada di masing-masing desanya. Kalau baduy luar bisa menggunakan bidan atau pergi ke puskesmas untuk kelahiran, tetapi ada juga beberapa yang menggunakan Dukun Beranak.

Setiap kelahiran anak di suku baduy mempunyai acara adat sebagai ungkapan rasa syukur. Mulai dari proses kehamilan yang harus menggunakan kendit atau yang biasa kita kenal sebagai kemben (ikat pinggang kain). Kendit di baduy biasa terbuat dari kulit kayu yang berfungsi sebagai penyangga atau penahan perut dan juga sebagai syariat yang dipercaya sebagai penjaga orang hamil oleh urang Baduy. Penggunaan kendit ini mulai digunakan pada usia kehamilan bulan pertama atau bulan ketiga. Pada usia 7 bulanan biasanya diadakan selametan seperti biasa yang hanya mengundang keluarga dan orang terdekat.

Pada saat kelahiran anak di suku baduy terdapat acara selamatan pada usia kelahiran 7 hari yang diselenggarakan selama 3 hari 3 malam untuk mendapatkan nama yang baik. Proses acara selamatan kelahiran di Baduy Dalam pasti sepengetahuan Puun (kepala adat) untuk mencari nama yang cocok untuk anak yang baru lahir. Pemberian nama pada anak diusulkan oleh kedua orangtua dari anak tersebut yang lalu dipilih atau yang telah dicocokan oleh Puun. Setelah upacara emilihan nama sudah selesai oleh Puun, siang harinya keluarga yang sudah memiliki nama untuk anaknya diharuskan menginap di saung lading mereka selama 2 hari 2 malam. Sedangkan pemilihan nama di Baduy Luar menggunakan jasa dari dukun Paraji atau paranormal setempat, bukan Puun. Setelah proses pemberian nama sudah ditetapkan oleh Puun atau Paranormal biasanya bayi tersebut dipakaikan gelang yang terbuat dari kapas yang disebut Kapuru yang dipercaya sebagai keselamatan.

Acara selametan kelahiran pun diselenggarakan dengan hanya mengundang keluarga dan tetangga di desanya. Dengan sajian makanan yang sederhana ada kue-kue untuk disuguhkan pada tamu yang datang. Adapula sajian yang orang Baduy sebut Congcot atau yang biasa kita kenal sebagai nasi tumpeng, Cuma bedanya nasi mereka gunakan adalah nasi putih yang hanya dibungkus seperti biasa beserta lauk seperti ayam, tempe, dan lain-lain. Adapula sajian khusus untuk Puun, biasanya yang disediakan untuk Puun adalah bahan-bahan untuk nyirih.

PERNIKAHAN

Pernikahan adat suku Baduy Dalam dan Baduy Luar memiliki perbedaan pada proses acara pernikahan adatnya. Di suku adat Baduy memiliki penanggalannya sendiri yang berbeda dengan kalender masehi yang kita gunakan. Mereka mengenal bulan baik dan bulan buruk untuk melakukan kegiatan acara adat maupun kegiatan untuk berladang. Ada 12 bulan yang mereka gunakan sama seperti kalender masehi, hanya berbeda nama. Tanggalan yang mereka gunakan seperti berikut:

Penanggalan masehi Penanggalan Baduy
Januari Safar
Februari Kalima
Maret Kaenam
April Kapitu
Mei Kadalapan
Juni Kasalapan
Juli Kasapuluh
Agustus Hapit Lemah
September Hapit Kayu
Oktober Kasa
November Karo
Desember Katiga

Dalam penanggalan tersebut masyarakat baduy mempercayai bulan baik dan bulan larangan untuk mengadakan acara apapun terutama mengadakan acara pernikahan. Terdapat tiga bulan larangan yang dihindari masyarakat baduy untuk mengadakan acara adat, bulan-bulan itu disebut bulan kawalu. Terdapat 3 bulan kawalu dalam penaggalan baduy yang dilarang melakukan acara adat, bulan tersebut adalah Kasa, Karo, dan Katiga. Sedangkan bulan yang paling baik untuk melakukan acara adat pernikahan adalah bulan Hapit Kayu.

Terdapat tiga proses dalam pernikahan adat baduy yang dilakukan oleh suku adat Baduy. Proses yang pertama adalah lamaran pertama kali sebagai perkenalan yang dilakukan melibatkan Puun sebagai penghulu di Baduy Dalam dengan mambawa gambir, Kapur, sirih untuk Puun dan juga keluarga mempelai wanita beserta makanan. Lamaran pertama ini dilakukan pula oleh Baduy Luar, tetapi yang membedakannya adalah mereka hanya melibatkan jaro desa Baduy Luar dan penghulu.

Acara pernikahan adat di Baduy Dalam sangat sederhana dan melibatkan segelintir orang dan tertutup untuk tamu luar atau wisatawan, terkecuali mereka yang sudah mengenal dan diijinkan atau bahkan diundang ke acara pernikahan mereka. Di Baduy Dalam populasi wanita terbilang cukup sedikit dibanding dengan pria. Penjodohan pun sudah dilakukan dari usaia 5 tahun oleh orang tua mereka, jadi para anak tidak bisa memilih pasangan mana yang akan mereka nikahi. Rata-rata pada usia 15-16 tahun mereka sudah dianggap dewasa untuk melaksanakan pernikahan.

Kami mempunyai kenalan teman orang baduy dalam bernama Aldi yang akan menceritakan proses pernikahannya. Aldi berusia 28 tahun dan sudah mempunyai 2 anak laki-laki yang berusia tiga tahun bernama Damian dan anak keduanya yang berusia 2 bulan yang bernama David. Aldi sudah dijodohkan sejak ia masih kecil dan menikah pada usia 20 tahun. Lamaran pertama kali yang dilakukan Aldi tepat dibulan kalima, lalu lamaran kedua dilakukan dibulan kaenam dan pernikahan dilaksanakan pada bulan kapitu. Pernikahan yang dilaksanakan oleh Aldi dan pasangannya yang bernama Daniah terbilang cukup sederhana. Pakaian yang mereka gunakan sama seperti pakaian mereka sehari-hari tetapi digunakan yang paling terbaru atau terbaik.

Prosesi pengesahan pernikahan yang dilakukan dengan cara saling mengunyah sirih yang dilanjutkan dengan saling menyuap nasi yang sudah diberi mantra oleh Puun sebagai penghulunya. Setelah suap menyuap nasi, maka pernikahan tersebut sudah nyatakan sah oleh semua saksi yang menyaksikan. Dilanjutkan dengan makan Bersama dengan tamu undangan.

Sedangkan prosesi pernikahan di baduy luar lebih terbuka untuk umum dan bisa disaksikan oleh tamu atau wisatawan dan terbilang lebih mewah dibandingkan pernikahan yang diadakan oleh Baduy Dalam. Pakaian yang digunakan pada acara pernikahan adat Baduy Luar berbeda dengan Baduy Dalam, Baduy Luar menggunakan sengker atau mahkota yang digunakan oleh kedua pasangan tersebut. Penggunaan kainnya pun bermotif batik masing-masing pasangan berbeda motif batik, mempelai lelaki biasanya menggunakan pola batik bernama poleng hideung sedangkan mempelai wanitanya menggunakan batik bermotif poleng kacang herang.

Hukum adat di suku baduy mengenal pernikahan hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup dan tidak diperbolehkan bercerai dan berselingkuh. Masyarakat baduy sangat berpegang teguh dengan adat istiadatnya yang membuat mereka tidak terpengaruhi oleh budaya luar. Baduy mempunyai motto hidup “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, kurang teu meunang ditambah, leuwih teu meunang dikurang”.

KEMATIAN

Upacara kematian di suku baduy sama seperti yang dilakukan umat islam yaitu dengan dikubur. Sebelum penguburan masyarakat baduy melakukan pemandian, penggunaan kain putih seperti kelambu yang berpori jarang untuk jenazah berbeda dengan kain kafan. Terdapat 3 juru kubur yang mengurusu penguburannya, sedangkan penggaliannya ramai-ramai secara gotong royong. Selain itu posisi jenazah yang diterapkan oleh suku baduy badan menghadap ke selatan dan kepala menuju barat.

Tamu yang datang untuk mendoakan biasanya 3 kali kedatangan dengan memberi santunan berupa uang. Setiap kedatangan biasanya uang santunannya berlipat lebih dari pada sebelumnya, contohnya kedatangan pertama memberi santunan berjumlah sebesar 50.000 lalu kedatangan selanjutnya berlipat melebihi dari 50.000 bisa 60.000 atau bahkan lebih, begitu pula kedatangan yang ketiga. Setelah mendoakan yang ketiga kalinya prosesi acara kematian pun selesai.

Terdapat tanda yang biasa kita sebut batu nisan, tetapi yang diterapkan oleh suku baduy tandanya itu menggunakan pohon hajuang di kepala dan di kaki. Terdapat perbekalan juga untuk jenazah berupa ayam bekakak dan nasi sedikit serta ikan asin dan sirip pinang ada pula uang logam terdapat pula 2 tabung bambu berisi air dan air nira, kalua bayi biasanya air asi ibunya ditaruh di tabung bambu tersebut. Yang menangis hanya dari keluarganya saja biasanya lelaki tidak nangis berlebih karena dianggap lemah hanya bersedih karena kehilangan.

Didalam jurnal yang saya buat memungkinkan adanya kesalahan data atau informasi dan masih bisa berubah suatu saat. data-data dan informasi ini saya kumpulkan dan saya rangkum menjadi tulisan berupa jurnal dari perjalanan kami selama 5 hari di suku Baduy. jurnal ini akan terus berlanjut menyusuri suku-suku yang ada di Indonesia.

sekian.. dan Terima kasih.

Jurnal Oleh Dhika

Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 1

Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 1

Orang Baduy/Badui merupakankelompok masyarakat adat Suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 26.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy Dalam.Saya akan bercerita mengenai perjalanan saya menuju suku baduy. Selamat membaca !

Hari pertama kedatangan di ciboleger menuju ke desa kenakes atau lebih tepatnya desa baduy luar untuk bermalam sekaligus meminta ijin untuk melakukan riset mengenai suku baduy. Pertemuan dengan Jaro Saija selaku kepala desa kenakes baduy luar dilakukan dengan tujuan bersilaturahmi, berhubung seorang dari tim pernah datang ke desa untuk kegiatan bakti sosial pada tahun 2014. *Jaro adalah sebutan lain dari kepala desa di baduy

Dalam kegiatan ini dilakukan oleh tiga orang ditambah dengan satu orang yang sudah pernah mengunjungi desa baduy dalam. Kegiatan survei ini dilakukan untuk membuat sebuah dokumentasi mengenai acara penting kebudayaan adat dari tiga acara penting dalam kehidupan, yaitu kelahiranpernikahan dan kematian.

Pertemuan dengan Jaro Saija yang sebentar membuat kami memperoleh sedikit informasi mengenai baduy, karena kesibukan Jaro Saija sebagai kepala desa. Namun, kami cukup mendapatkan informasi mengenai adat istiadat suku baduy dari salah satu warga badui luar sambil membeli cinderamata yang dibuatnya.

     

Desa baduy dalam terbagi menjadi 3, yaitu desa cibeo, desa cikeusik, dan desa cikartawarna. Tujuan utama kami dalam riset petama ini untuk pergi ke Baduy Dalam tepatnya di Desa Cibeo. Perjalanan dari desa Kenakes Baduy Luar menuju Cibeo menempuh jarak kurang lebih 12km yang kami tempuh dalam waktu 4 jam. Banyak rute yang bisa dilalui menuju Baduy Dalam, ada yang melalui gajebo atau lumbung padi yang biasa urang baduy sebut leuit, Lumbung padi yang bisa menyimpan cadangan beras selama 1 abad. Adapula jalur cijahe dan jalur lainya yang berbeda medan dan juga berbeda pemandangan. Jalur keberangkatan yang kami lalui adalah jalur yang melewati gazebo. Jalur yang cukup sulit karena melewati banyak tanjakan dan turunan curam yang membuat salah satu tim mengalami kram kaki akibat kurangnya peregangan pada saat keberangkatan.

Perjalanan didampingi oleh ayah Darma warga suku asli Baduy di desa Cibeo. Kami berangkat dari rumah Jaro Saija pukul 8 pagi dan sampai kediaman ayah Darma pada pukul 11.30 siang. Perjalanan kami menuju suku Baduy Dalam seperti perjalanan mundur menuju masa lampau, Sebelum bercerita mengenai bagaimana kami tinggal di desa Cibeo Baduy Dalam, kami akan memberi alasan kenapa perjalanan ini kami sebut “perjalanan mundur menuju masa lampau”.

  

Dimulai dari pusat kota yang ramai riuh serba cepat dan terburu-buru, teknologi yang selalu berkembang pesat, kami berjalan meninggalkan segala keriuhan menuju ke Rangkasbitung, Banten. Ketika melewati Rangkasbitung yang sudah mulai jauh dari keramaian hingga akhirnya sampai pada kampung ciboleger desa Kenakes kecamatan Leuwidamar, Banten. Kampung ini seperti kampung wisata pada umumnya banyak warung yang menjajakan makanan dan kerajinan khas baduy, ada penduduk lokal yang sibuk dengan urusannya, pemandu wisata bersama tamunya, dan kami tentunya sebagai wisatawan.

Setelah beristirahat sejenak kami bersiap untuk pergi masuk kedalam desa baduy luar untuk menginap di kediaman Jaro Saija. Terdapat perbatasan yang memisahkan kampung Ciboleger dan desa Kenakes Baduy Luar, yaitu kantor desa Kenakes. Setelah melewati perbatasan kantor desa semua warga Baduy Luar mempunyai rumah berbahan dasar kayu dan bambu rumah adat yang biasa disebut Sulah Nyanda yang pengerjaannya dilakukan secara gotong royong.

Di pemukimam Baduy Luar para warganya sudah mengenal dan menggunakan teknologi seperti telepon genggam dan terbuka dengan budaya luar, kecuali listrik dan penggunaan sabun masih dilarang di pemukimannya. Ketika malam datang warganya hanya menggunakan lampu penerangan kecil bertenaga matahari. Penggunaan semen pun tak terlihat di desa Kenakes, jalanan setapak yang menghubungkan antar rumah hanya berbahan dasar dari batu kali. Perbedaan yang paling mendasar antara Baduy Dalam dan Baduy Luar adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat. Di pemukiman Baduy Luar saya merasa distraksi dari alat elektronik mulai berkurang dan mulai berbaur Bersama warga desa dengan menonton pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia. Kami menonton di satu-satunya tempat yang mempunyai televisi dan listrik sebagai hiburan setempat yang berada di kantor desa Kanekes.

Melanjutkan perjalanan menuju desa Cibeo Baduy Dalam, setelah berjalan melewati beberapa jembatan bambu serta tanjakan dan turunan bukit yang cukup terjal, akhirnya kami sampai jembatan yang menjadi penanda perbatasan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Sebelum melewati jembatan kami semua menonaktifkan semua alat elektronik untuk menghormati budaya adat di Baduy Dalam. Setelah memasuki desa Cibeo, suasana asri perkampungan dengan sungai yang jernih tanpa terlihat sampah plastik serta jauh dari suasana bising.

Memasuki pemukiman baduy dalam seperti berada di desa kerajaan pada masa lalu. Bersahaja dan jauh dari kesan modern dengan rumah sederhana terbuat dari kayu tanpa menggunakan paku untuk merekatkan kayu, tetapi menggunakan kulit dari kayu rotan yang diikat antara siku kayu, uniknya rumah inilah yang kokoh dari gempa. Pintu rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu berbeda dengan masyarakat Baduy Luar yang menggunakan pintu kayu dan paku untuk rumahnya. Didalamnya terdapat 2 tungku pembakaran, yang pertama adalah dapur untuk keperluan memasak makanan dan kedua untuk memasak air dan penghangat ruangan. Tidak ada kamar dan kami tidur diruang tengah hanya beralaskan tiker dan suasana tenang dengan sedikit pencahayaan dari obor kecil. Itu mengapa kami menggambarkan perjalanan ini seperti perjalanan menuju masa lampau. Karena suasana desa baduy dalam yang jauh dari kesan modern dan serba alami.

    

lanjut ke part selanjutnya…

Perjalanan Menuju Desa Masa Lampau Di Baduy Dalam PART 2